17/04/12

Indonesia Ekspor Rempah ke Mesir Sejak Jaman Fir'aun



Nama "Indonesia" sendiri, yang berarti, "Pulau-pulau India" diberikan kepada kepulauan itu oleh seorang etnolog Jerman, dan telah dipakai sejak 1884. Awalnya, Indonesia adalah nama geografis untuk menyebut semua pulau antara Australia dan Asia, termasuk Filipina. Gerakan nasionalis Indonesia mengambilnya dan membuatnya menjadi nama resmi untuk republik mereka pada 1945 dan 1949.

Nusantara atau Indonesia merupakan sebuah bangsa besar dan pernah memimpin peradaban dunia. Bangsa ini pernah menjadi pemimpin bagi dunia dagang dunia, di mana para pedagang Cina misalnya sangat tergantung pada pelaut-pelaut Nusantara.

Diawali oleh adanya sebuah catatan hieroglyphic Mesir sekitar 3.600 tahun yang lalu. Fir'aun Mesir saat itu membuka hubungan diplomasi khusus dengan kerajaan Punt di selatan. Disebutkan bahwa kerajaan Mesir saat itu tengah melakukan misi dagang penting dengan kerajaan Punt dengan komoditi rempah-rempah dalam jumlah yang besar. Terlebih diketahui kemudian, Ratu Hatshepsut dari dinasti ke-18, telah melakukan misi dagang rempah-rempah ini. Kelak di kemudian hari, melalui transit di Mesir inilah kemudian rempah-rempah moyang bangsa Indonesia dikenal dan menyebar di imperium Yunani dan Romawi sekaligus daratan Eropa.

Sebuah literatur klasik Yunani berjudul Periplous tes Erythras Thalasses (70 M), yang terbit sebelum Rasululah saw. lahir, telah menulis suatu daerah bernama Chryse, sebuah nama Yunani untuk "Pulau Emas" atau dalam bahasa sanskrit bernama "Swarna Dwipa" (Suvarnadvipa). Ini adalah nama lain bagi Pulau Sumatera.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebut istilah Chrysae Chersonesos yang mengacu pada wilayah pesisir barat Sumatera (atau sekitar Sumatera Utara) dan menyebutkan pula di wilayah tersebut terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari Kapur Barus.

Bahkan dikisahkan pula bahwa Kapur Barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum masehi.

Berdasakan buku Nuchbatuddar karya ad-Dimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syaikh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.

Sebuah tim arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerja sama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua, Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, Cina, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya. Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur

CLOVE ROUTE

Pada 11 April 2002, Robert Dick-Read, peneliti sejarah purba dari London, mendapat informasi dari Prof. Giorgio Buccellati, seorang arkeolog senior dari University of California-Los Angeles (UCLA) yang sejak tahun 1976 aktif memimpin satu tim ekspedisi arkeolog mengekplorasi wilayah sekitar Mesir.

Buccellati mengatakan bahwa ia kaget sekaligus kagum dengan sebuah temuannya:

"Saya menemukan sebuah porselen cekung yang diselimuti tanah bercampur pasir agak tebal. Setelah dibersihkan, ada fosil sisa-sisa tumbuhan mirip Cengkeh di atasnya. Saya yakin itu Cengkeh! Namun saya harus mengkonfirmasi temuan ini pada kolega saya, Dr. Kathleen Galvin, seorang ahli paleobotani (botani purba) yang pasti mengenal tumbuhan ini dengan baik".


Buccellati saat itu tengah melakukan penggalian di atas tanah bekas rumah seorang pedagang yang berasal dari masa 1.700 SM di Terqa, Eufrat Tengah. Galvin segera datang. Setengah tak percaya, Galvin memastikan bahwa itu memang fosil tumbuhan Cengkeh!

Kedua pakar tersebut kaget dengan temuannya. Sebagai pakar, mereka mengetahui jika pada masa itu Cengkeh hanya bisa hidup di satu tempat di muka bumi, yakni di Kepulauan Maluku, Indonesia. Inilah yang kemudian muncul termin Clove Route atau jalur perniagaan rempah-rempah Cengkeh bangsa Indonesia hingga sampai ke Fir'aun Mesir.

Temuan Buccellati ini memunculkan dugaan baru yang sangat ilmiah yaitu di masa sebelum masehi, para pedagang sekitar Maluku telah sampai di daratan Mesir.

Sebuah penemuan arkeologi lain memperkuat dugaan ini, seorang arkeolog berkebangsaan Inggris menemukan sisa-sisa biri-biri atau kambing di situs bekas pemukiman pada masa yang kurang lebih sama (1.500 SM) di pulau Timor yang berjarak beberapa ratus mil di sebelah selatan Kepulauan Maluku.

Kedua temuan tersebut membuktikan kepada kita jika di masa sebelum masehi, di zaman para nabi-nabi, pelaut-pelaut Nusantara telah melanglang buana menyeberangi samudera dan menjalin hubungan dengan warga dunia lainnya.

Bahkan Dick-Read meyakini jika sistem pelayaran, termasuk perahu-perahu, dari para pelaut Nusantaralah yang menjadi acuan bagi sistem dan bentuk perahu banyak negeri-negeri lain di dunia. Keyakinan ini diamini oleh sejumlah arkeolog dan sejarawan senior seperti Dr. Roland Oliver.

CINNAMON ROUTE

Berbeda dengan Clove Route yang menyisir mulai Malaka, India hingga tiba di pesisir semenanjung Arab, para arkeolog dunia juga telah menemukan jejak-jejak perdagangan maritim bangsa Indonesia, khususnya kerajaan Sriwijaya dengan bangsa-bangsa di Afrika. Jalur ini kemudian dinamakan Cinnamon Route dinisbatkan atas temuan fosil-fosil rempah-rempah Kayu Manis di pulau Madagaskar dan tiga kota pesisir timur Afrika seperti: Rhapta (sekitar Tanzania-Mozambique), Adulis (wilayah Eritrea), dan Berenike Troglodytica (wilayah Mesir-Sudan).

Kayu Manis sebagai salah satu komoditi rempah-rempah dominan ditemukan di wilayah Indonesia. Dengan adanya Cinnamon Route ini lebih mengindikasikanlagi bahwa pelaut-pelaut moyang Indonesia adalah pebisnis lintas maritim bahkan lintas samudra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.